Langsung ke konten utama

Teori Pemrosesan informasi berbantuan media

Teori pemrosesan informasi didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting. Dalam proses pembelajaran terjadi adanya proses informasi kemudian diolah sehingga menciptakan suasanya yang terencana, dan suasana pembelajaran yang mendukung. Teori pemrosesan informasi ini merupakan teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses dalam otak melalui beberapa indera.
Teori kognitif lebih menekankan pada proses belajar daripada hasil belajarnya. Proses belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon melainkan tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Teori belajar kognitif ini merupakan teori belajar umum yang dapat di terapkan dalam materi apapun, termasuk juga dalam pembelajaran kimia.
Tahap-Tahap Pemrosesan Informasi
 Sebelum respons kinetik diberikan terhadap suatu stimuli, informasi akan dianalisis melalui;
1. Identifikasi stimulus sebagai persepsi Tahap pengenalan rangsang (stimuli identification) merupakan tahap penginderaan, yang menganalisis informasi dari berbagai sumber seperti pandangan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan sebagainya. Identifikasi stimulus merupakan awal dari rangkaian pengenalan stimulus yang diterima seseorang dengan memberikan analisis terhadap lingkungan dari suatu sumber informasi, bentuk informasi, sentuhan, penglihatan dan pendengaran. Hasil identifikasi stimulus ini akan menjadi bentuk yang representatif bagi seleksi respons yang harus diberikan terhadap suatu bentuk stimuli.
2. Seleksi respons sebagai keputusan Pada tahap seleksi respons akan dilakukan seleksi terhadap berbagai kemungkinan respons yang harus diberikan terhadap suatu stimuli, selanjutnya seleksi respons akan disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Berbagai kemungkinan bentuk gerak akan diprogramkan untuk memberikan respons, atas stimuli yang muncul. Tahapan pemilihan respon dimulai ketika tahapan pertama memberikan informasi tentang hakikat dari rangsangan yang masuk. Selanjutnya tugas pemilihan respon ini adalah untuk menentukan gerakan apa yang harus dibuat, sesuai dengan rangsangan. Tahap ini adalah serupa dengan mekanisme penerjemahan antara masukan indera dan luaran gerakan
3. Pemrograman respon sebagai aksi Dalam pemrograman respons dilakukan pengorganisasian tugas dari sistem motorik sebagai dasar respons kinetik. Sebelum respons kinetik sebagai jawaban dimunculkan, maka program respons akan mempertimbangkan bentuk stimulus yang telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya. Bila tahapan rangkaian proses pengolahan informasi telah dilakukan, maka pola rencana gerak telah terbentuk dalam memori seseorang. Pola rencana gerak yang berinteraksi dengan lingkungan stimulus pada akhirnya akan menjadi respons kinetik seperti yang ditampilkan oleh seseorang.
Teori  Pemrosesan Informasi Dalam Kegiatan Pembelajaran menurut Gagne
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process. An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu: 
1. Motivasi yaitu fase awal memulai pembelajaran dengan adanya dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tententu (motivasi intrinsik dan ekstrinsik).
2. Pemahaman, yaitu individu menerima dan memahami Informasi yang diperoleh dari pembelajaran. Pemahaman didapat melalui perhatian.
3. Pemerolehan, yaitu individu memberikan makna/mempersepsi segala Informasi yang sampai pada dirinya sehingga terjadi proses penyimpanan dalam memori peserta didik.
4. Penahanan, yaitu menahan informasi/ hasil belajar agar dapat digunakan untuk jangka panjang. Hal ini merupakan proses mengingat jangka panjang.
5. Ingatan kembali, yaitu mengeluarkan kembali informasi yang telah disimpan, bila ada rangsangan
6. Generalisasi, yaitu menggunakan hasil pembelajaran untuk keperluan tertentu.
 7. Perlakuan, yaitu perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran
8. Umpan balik, yaitu individu memperoleh feedback dari perilaku yang telah dilakukannya. Selain itu ada sembilan langkah yang harus diperhatikan guru di kelas dalam kaitannya dengan pembelajaran pemrosesan informasi.
a.       Melakukan tindakan untuk menarik perhatian peserta didik.
b.      Memberikan informasi mengenai tujuan pembelajaran dan topik yang dibahas.
c.       Merangsang peserta didik untuk memulai aktivitas pembelajaran.
d.      Menyampaikan isi pembelajaran sesuai dengan topik yang telah dirancang.
e.       Memberikan bimbingan bagi aktivitas peserta didik dalam pembelajaran.
f.       Memberikan penguatan pada perilaku pembelajaran.
g.      Memberikan feedback terhadap perilaku yang ditunjukkan peserta didik.
h.      Melaksanakan penilaian proses dan hasil.
i.        Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya dan menjawab berdasarkan pengalamannya.
Teori  Pemrosesan Informasi Dalam Kegiatan Pembelajaran menurut Atkinson
Informasi yang diterima oleh manusia diolah oleh suatu sistem memori yang ada di otak untuk dapat dikenali, diorganisasikan dan direspon. Pemrosesan informasi untuk menjadi pengetahuan yang tersimpan dalam memori manusia atau proses pengolahan pengetahuan di memori disebut dengan proses kognitif. Proses ini disebut juga proses mental kognitif.
Diskusi dan penelitian mengenai proses kognitif sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Shiffrin dan Atkinson (1969) menyusun diagram sistem pemrosesan informasi. Karakter dan fungsi dari masing-masing bagian sistem kognitif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Memori Penginderaan (Sensory Memory)
Memori penginderaan adalah komponen paling pertama yang menerima informasi. Untuk memberikan persepsi dan identifikasi awal informasi yang diterima, memori ini mengubah informasi dalam bentuk signal-signal stimulus. Penelitian menunjukkan bahwa memori ini menahan signal-signal tersebut untuk memberikan persepsi dan identifikasi dalam waktu yang sangat pendek (kurang dari satu mikro detik) dan signal tersebut akan segera hilang dari memori ini karena datangnya signal-signal stimulus berikutnya (Bruning et al., 2004).
Memori penginderaan merupakan suatu sistem yang terdiri dari penerima atau penerus informasi (sense registers). Penerima informasi dikenal dengan alat pengindera, seperti mata (untuk melihat dan menerima pandangan/informasi visual), telinga (untuk mendengar dan menerima suara/informasi auditori), hidung (untuk membau), lidah (untuk merasa) dan kulit (untuk meraba). Meskipun setiap alat pengindera tersebut mempunyai kemampuan yang berbeda, sebagian besar peneliti lebih memfokuskan pada penglihatan dan pendengaran.
2.      Working Memory (Memory Pekerja)
Ketika saat ini kita sedang memikirkan suatu informasi, maka kita sedang menghadirkan informasi tersebut di memori pekerja. Memori pekerja sebelumnya dikenal dengan memori jangka pendek (short term memory). Secara fungsi, memori ini bertugas untuk mengorganisasikan informasi, memberi makna informasi dan membentuk pengetahuan untuk disimpan di memori jangka panjang, sehingga disebut memori pekerja. Secara kapasitas, memori ini hanya dapat menyimpan (menahan) informasi dalam waktu pendek, sehingga disebut memori jangka pendek.
3.      Long Term Memory (Memori Jangka Panjang)
Memori jangka panjang diasumsikan sebagai tempat penyimpanan pengetahuan secara permanen, karena pengetahuan dapat ditahan di dalam memori ini dalam waktu lama. Memori ini juga mempunyai kapasitas yang tidak terbatas (Pass et al., 2004; Sweller, 2004). Hal ini dapat ditunjukkan dengan kemampuan kita untuk menyimpan informasi sejak lahir sampai akhir hayat. Ketika kita merasa sulit menyimpan atau mengingat informasi, yang menjadi masalah bukan kapasitas memori jangka panjang kita terbatas. Namun, kapasitas memori pekerja yang terbatas dalam proses kognitif meyimpan pengetahuan atau memanggil pengetahuan.



PERMASALAHAN
1. Dalam memperoleh informasi, setiap orang mempunyai perbedaan dalam menagkap informasi yang disampaikan. Apa yang menyebakan hal tersebut? Apakah dapat diatasi?
2. Pada kegiatan pembelajaran, guru berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menyampaikan informasi pembelajaran kepada peserta didik. Namun tidak dapat dipungkiri tetap saja proses penerimaan informasi setiap peserta didik itu berbeda. Bagaimana cara guru untuk mengatasi hal ini?
3. Apa yang harus dilakukan oleh seorang guru agar materi kimia yang diajarkannya dapat melekat pada siswa dalam memori jangka panjang?

Komentar

NIDA UL AZMI mengatakan…
Saya akan mencoba membantu menjawab pertanyaan no. 2, siswa dalam belajar tidak sama dalam penerimaan materi pelajaran, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor. Menurut Oemar Hamalik (1992), terdapat dua faktor yang mempengaruhi siswa dalam belajar, yaitu :
(a). Faktor Internal adalah faktor yang bersumber dari dalam diri anak itu sendiri yang disebabkan implikasi perkembangannya, yaitu kebutuhan tak terpuaskan, kurang pengawasan, dan kurang kuat ingatannya.
(b). Faktor Eksternal adalah faktor yang bersumber pada pengaruh-pengaruh luar seperti pelajaran yang sulit, cara guru mengajar kurang efektif, kurang menarik minat, sikap yang tidak akur dan alat belajar yang kurang lengkap.
Menyikapi hal ini, maka seorang guru harus memahami perkembangan siswa, hal ini sejalan dengan pendapat Muhibbin (1995), bahwa seorang guru harus mengerti perkembangan dengan segala asfeknya antara lain.
(a). Guru memberikan layanan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada para siswa yang relevan dengan tingkat perkembangan.
(b). Guru mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa tertentu.
(c).Guru mempertimbangkan waktu yang tepat untuk memulai aktivitas proses belajar-mengajar bidang studi.
(d). Guru menemukan dan menetapkan tujuan-tujuan pengajaran. Jika hal ini dapat dilakukan oleh guru maka sasaran belajar siswa yang menyangkut apa yang harus dikerjakan untuk dirinya dalam belajar dapat tercapai.
Nurul Rahmiah mengatakan…
Saya ingin menanggapi pertanyaan saudara pada nomor 1 dimana dalam memperoleh informasi, setiap orang mempunyai perbedaan dalam menangkap ataupun menerima informasi yang disampaikan dimana setiap individu memiliki nilai ketertarikan tersendiri pada bagaimana si pengajar menjelaskan dengan menggunakan media seperti kasus untuk anak yang tidak tertarik dengan media video, tentu saja anak tersebut akan kesulitan menerima informasi yang diberikian oleh si pengajar sehingga hal ini mempengaruhi dalam proses belajar-mengajar. Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Dalam pemilihan dan penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik komponen lain, seperti: tujuan, materi, strategi, dan juga evaluasi pembelajaran. Karakteristik multimedia adalah:
1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur teks dan visual.
2. Bersifat interaktif, yaitu memiliki kemampuan untuk mengakomodasikan respon pengguna.
3. Bersifat mandiri, dalam pengertian member kemudahan dan kelengkapan isi
Gita Sitepu mengatakan…
Saya menanggapi untuk permasalahan no 3
Karena peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka idealnya guru harus mampu menggabungkan berbagai gaya belajar siswa, mulai dari yang dominan belajar dengan gaya audio, visual maupun kinestetik. Namun pada kenyataannya guru dihadapkan pada kendala teknis yang membuat gabungan gaya belajar tersebut menjadi sulit diterapkan di kelas. Oleh karena itu guru kembali dituntut untuk mampu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan bisa menarik sebanyak mungkin perhatian dan minat siswa.
Berikut ada beberapa metode yang ditawarkan oleh banyak pakar dalam menyiasati kendala diatas, diantaranya adalah dengan :

1. Siswa diminta untuk mengemukakan kembali informasi dengan kalimat mereka sendiri
2. Guru mampu memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan dan pengalaman mereka sehari-hari
3. Menerangkan dalam berbagai bentuk informasi (lisan, model, gambar, suara) dan situasi
4. Mengaitkan suatu materi dengan fakta atau gagasan lain yang tengah berkembang dilingkungan siswa
5. Menjelaskan dengan berbagai cara (berdiri, bergerak, intonasi dan mimik) atau melalui ceramah, latihan dan diskusi
6. Membuat lawan atau kebalikan ( sesuatu yang ganjil lebih mudah diingat) dari materi yang diterangkan
FERONIKA mengatakan…
baik akan menambahkan jawaban dari saudari gita tentang persoalan no 3. cara untuk mengajar atau membuat materi yang diajarkan agar terserap pada siswa dalam jangka waktu yang panjang yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan unik. sehingga siswa akan lebih antusias dalam proses pembelajaran. seperti kita ketahui tidak semua siswa yang menyukai matapelajaran kimia, untuk itu kita harus mencari metode yang tepat dan bersifat funny sehingga siswa tidak gampang bosan dan jenuh dengan keabstrakan kimia. kita ketahui kimia itu bersifat sangat abstrak. nah sebagai guru harus bisa membuat teori yang abstrak menjadi real atau mencontohkan dengan kehidupan sehari-hari.
Unknown mengatakan…
saya akan menanggapi permasalahan no.2 Agar proses penerimaan infomasi oleh siswa maksimal maka guru bisa melakukan beberapa hal diantaranya adalah guru selalu medahului pembelajaran dengan apersepsi atau mengaitkan dengan konsep yang sudah dipahami anak sebelumnya. Melalui apersepsi, guru dapat menunjukkan pada siswa eratnya hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh guru untuk memberikan apersepsi. Suyanto dan Asep Jihad (2013: 116) menjelasakan dua langkah yang dapat dilakukan guru dalam memberikan apersepsi, yaitu:
a. menanyakan pada siswa tentang hal-hal yang dialami dalam kehidupan sehari-hari untuk menstimulasi memori siswa; dan
b. meminta siswa bertanya untuk merangsang keingintahuan siswa dan mendorong siswa untuk memahami hubungan antara pengalaman sehari-hari dan materi yang akan dipelajari.
Dalam penyampaian informasi, guru harus memahami situasi dan kondisi yang dihadapi agar informasi yang disampaikan dapat diserap dengan baik oleh siswa. Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad (2011: 22-24) menyebutkan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian informasi untuk siswa, yaitu urutan penyampaian materi, ruang lingkup materi, dan materi yang disampaikan. urutan penyampaian informasi yang sistematis akan memudahkan siswa memahami materi yang akan dipelajari. belajar membutuhkan pendekatan yang dikaitkan dengan situasi konkret, proses lebih sederhana, menggunakan alat peraga, dan penyampaian guru lebih pelan-pelan. Konsep-konsep yang diajarkan memerlukan jembatan bertahap, stimulus konkret, dan bahasa sederhana.
Unknown mengatakan…
Saya akan menanggapi permasalahan no.3
Berikut cara guru supaya anak mengingat materi kimia.
Libatkan murid dalam dalam proses pembelajaran. Metode yang dapat digunakan yaitu Discovery learning, Inquiry Learning, dan Problem-based learning.

Discovery learning adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu bukan melalui pemberitahuan, melainkan ditemukan sendiri.
Inquiry Learning adalah proses pembelajaran dibangun atas pertanyaan-pertanyaan yang yang diajukan siswa sehingga para siswa didorong untuk berkolaborasi untuk memecahkan masalah, dan bukannya sekedar menerima instruksi langsung dari gurunya. Penting juga bagi guru untuk mempertimbangkan perhatian, motivasi, gaya belajar dan emosi.
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kirtis dan keterampilan memecahkan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Reflect – Berikan kesempatan kepada murid untuk menghubungkan sesuatu yang baru diberikan oleh guru dengan pemahaman yang sudah ada dalam dirinya.

Recode - Berikan kesempatan pada anak untuk mengadaptasikan pengetahuan yang baru dalam pemahaman murid secara penuh, mungkin secara visual, pemahaman abstrak, ide-ide dll. Dengan cara ini pengetahuan yang baru telah menjadi milik si pembelajar.

Reinforce – Berikan penguatan melalui umpan balik. Hal ini berperan untuk mengoreksi apa yang salah dan menguatkan yang telah dikuasai, sehingga apa yang masuk pada ingatan jangka panjang merupakan pengetahuan yang telah terseleksi.

Rehearse – Lakukan pengulangan yang berfungsi agar pengetahuan masuk ke dalam ingatan jangka panjang.

Review –Lakukan pengolahan pengetahuan yang telah ada dalam ingatan jangka panjang untuk melihat apakah pembelajar telah menguasai bahan dengan baik dan benar
Unknown mengatakan…
Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no.3,Dalam kenyataan yang terjadi di kelas, guru menghadapi siswa yang sulit memahami materi pelajaran yang sudah dijelaskan. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah sebagian siswa didik masih mengalami kesulitan dalam menyimak. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembelajaran menyimak yang benar dan latihan yang kontiniu karena suatu keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan
asha mengatakan…
disini saya akan menanggapi permasalahan sudara Apa yang harus dilakukan oleh seorang guru agar materi kimia yang diajarkannya dapat melekat pada siswa dalam memori jangka panjang.
yang dapat dilakukan adalah dengan disajikannya pembelajaran itu berkesan bagi siswaseperti contohnya menghubungkan pembelajaran dengn apa yang ada di kehidupan nyata sehingga siswa mampu mengamati contoh secara nyata di kehidupan sehari-hari
Unknown mengatakan…
Menanggapi persoalan yang pertama
Peran guru harus mampu sekreatif mungkin dalam mengajar sehingga para siswa dapat memahami materi pelajaran
Misalnya guru bisa membuat alat peraga yang sesuai dengan materi
Atau guru juga bisa menyuruh para murid untuk membuat sendiri alat peraga sesuai materi
Karena jika dipraktekkan langsung siswa akan lebih mudah paham daripada guru hanya memberikan teori
Unknown mengatakan…
Saya akan menjwab peemasalahan Anda yang ketiga dimana cara untuk membuat memori jangka panjang yaitu pada Saat pembelajaran siawa diberitahukan tujuan dari pembelajaran yersebut, diberikan pertanyaan" spontan Saat pembelajaran, dilakukan penekanan inti materi diakhir pertemuan, diberikan tugas untuk dikerjakan di rumah serta pada pertemuan selanjutNY dibahas akan tugas yang telah diberikan kemarin
Unknown mengatakan…
Saya akan menjawab permasalhan nomor tiga, terkait apa yang harus dilakukan oleh seorang guru agar materi kimia yang diajarkannya dapat melekat pada siswa dalam memori jangka panjang. Menurut saya langkah yang dapat dilakukan guru adalah sering mengulas/ mengulang-ulangi terkait informasi/pengetahuan yang penting. dan menyarankan kepada siswa untuk mencatat hal-hal penting ketika sang guru mejelaskan pelajaran.
Enda damanik mengatakan…
Menurut saya setiap orang memiliki daya tangkap yang berbeda2 itu disebakan karena pada saat belajar tidak semua siswa berkonsentraai penuh ada juga yang hanya sekedar belajar saja, dan hal inilah yang menyebabkan daya tangkap semua siswa berbeda2
Nurul Amini mengatakan…
Saya akan menanggapi permasalahan nomor 3 yang mana guru dapat melakukan dengan cara memberikan materi dengan multimedia yang menarik sehingga peserta didik dapat tertarik dan menjadi suka untuk membaca berulang kali, dan juga dilakukan setiap awal pertemuan mengulang materi yang telah lalu dan dapat dilakukan dengan memberi tugas tugas