E-learning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan
ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan
komputer lain (Hartley, 2001). E-learning membuat pembelajaran dapat lebih
terbuka dan fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan
dengan siapa saja. Salah satu media yang dikembangkan untuk menunjang
pembelajaran secara online adalah program LMS (Learning Management System).
Menurut Yasar dan Adiguzel (2010), Learning Management System (LMS) adalah
suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai fungsi untuk memberikan sebuah
materi belajar, mendukung kolaborasi, menilai kinerja peserta didik, merekam
data peserta didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk memaksimalkan
efektifitas dari sebuah pembelajaran. Selain materi ajar, skenario pembelajaran
perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik
secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka (Hasbullah, 2009).
Soekartawi
(2003) menyarankan beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan
model pembelajaran berbasis web. Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis
kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web
memang dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan
kondisi lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis
konten, analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya.
Pengembangan e-learning merupakan proses produksi program dengan
mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang
diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah
dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi
diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas
dan efektivitas program sebelum diimplementaasikan secara formal.
Contoh penerapan e-learning dalam
materi hidrokarbon
Pengembangan
bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini
didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan
(1974), yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan
(design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate). Tahap
pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan
kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap
ini adalah:
(1)
analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni
berupa bahan ajar berbasis e-learning,
(2)
analisis siswa, langkah ini menetapkan subyek pebelajar dan sasaran belajar
siswa yaitu siswa kelas X semester 2 dengan materi pokok senyawa hidrokarbon
dan minyak bumi dengan karakter siswa yang telah mengenal internet, dan
(3)
perumusan indikator hasil belajar yang dirumuskan berdasarkan standar
kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP).
Analisis
siswa dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) analisis tugas dengan mencari literatur
dan sumber belajar tentang hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep
yang dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan
dipelajari. Tahap perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1)
penyusunan tes dengan membuat soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat
pemahaman materi dan keberhasilan siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar,
(2) pemilihan media untuk mendapatkan media yang tepat sesuai dengan
perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung, yaitu media internet, dan
(3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks yang relevan, menulis
bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara intensif dengan dosen
pembimbing. Pada tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan
adalah: (1) konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan
menyusun media dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian, (2) validasi
yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh
dari validator, (3) analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai
dengan penilaian, saran, dan kritik dari validator, (4) revisi bahan ajar
berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar yang akan
digunakan, dan (5) uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk
mengetahui kelayakan dari produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis
e-learning. Tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap
penggunaan bahan ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap
ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis
e-learning hasil pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan
(disseminate) tidak dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga,
dan biaya. Selain itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar
berbasis e-learning yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk
mengukur prestasi belajar siswa.
Keuntungan e-learning
Banyak
sekali tulisan dan forum yang membahas berbagai keuntungan dan kekurangan
pembelajaran melalui e-learning. Sekedar memenuhi rasa ingin tahu, penggunaan
mesin pencari Google dengan kata kunci "elearning advantage"
menghasilkan tak kurang dari 1.240.000 link yang memuat kata kunci tersebut.
Meskipun tidak semua link relevan, namun hal itu menunjukkan bahwa sudah cukup
banyak tulisan di Internet yang berkaitan dengan keuntungan elearning. Beberapa
keuntungan e-learning, apabila direncanakan dan dilaksanakan sesuai
prinsipprinsip yang telah dijelaskan di depan, antara lain adalah sebagai
berikut.
1)
E-learning mendukung pembelajaran berpusat pada siswa (student-centered
learning) sebagaimana dinyatakan dalam situs Mindspan Learning Solutions IBM
(UCD, 2006). Hal ini karena dengan e-learning: a. mahasiswa dapat mempelajari
materi kuliah sesuai dengan kecepatan dan gaya belajarnya sendiri b. mahasiswa
yang memiliki lebih banyak keinginan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk
bertanya c. materi belajar dapat dipelajari dengan urutan sesuai kebutuhan
mahasiswa d. mahasiswa dapat mempelajari materi kuliah berkali-kali sesuai
kebutuhannya e. perbaikan dapat dilakukan secara lebih efektif f. kuliah online
tidak tergantung pada jadwal atau waktu sehingga dapat berlangsung terus
menerus.
2)
E-learning memungkinkan penggunaan berbagai bentuk dan format multimedia secara
efektif di dalam pembelajaran untuk menyajikan materi pembelajaran dan
aktivitas belajar yang diperlukan.
3)
Dalam e-learning interaksi dan komunikasi antar mahasiswa dan dengan dosen
dapat terjadi secara lebih intensif tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu dan
terganggu suasana psikologis yang terjadi akibat kontak fisik (misalnya rasa
sungkan). E-learning mendukung kolaborasi dan pembelajaran berbasis masalah,
sehingga meningkatkan aktivitas dan kemampuan mahasiswa memecahkan masalah,
misalnya melalui evaluasi sesama teman (Akahori, 2003).
4)
Dengan belajar melalui e-learning mahasiswa bertambah pengetahuan dan
keterampilan bidang TIK, sebagai hasil belajar sampingan.
5)
Transparansi evaluasi pembelajaran dapat dijamin karena sistem e-learning mampu
mencatat aktivitas belajar mahasiswa selama di dalam sistem.
PERMASALAHAN
1. Pembelajaran
berbasis e-learning membutuhkan peralatan media yang memadai, miasalnya
kompouter. Apakah metode ini efektif digunakan unruk semua instansi/sekolah di
Indonseia?
2. Dalam
belajar, ada tiga ranah yang harus
dimiliki oleh siswa, bukan hanya kognitif tetapi juga afektif dan motorik.
Bagaimana perkembangan afektif dan motoric siswa dalam pembelajaran berbasis
e-learning
3. Syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh sekolah ataupun siswa untuk dapat menggunakan metode pembelajaran dengan pengembangan e-learnig?
3. Syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh sekolah ataupun siswa untuk dapat menggunakan metode pembelajaran dengan pengembangan e-learnig?
Komentar
Metode e-learning bisa diterapkan pada sekolah mana pun, tidak dikhususkan pada sekolah tingkat tinggi saja seperti universitas, tetapi dimulai dari sekolah dasar pun juga sudah bisa memakai sistem pembelajaran ini. Karena jelas dirasakan manfaatnya dengan adanya e-learning untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Manfaat yang akan dijabarkan, diambil contoh penerapan e-learning pada sekolah tingkat awal (sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah umum), antara lain:
1. Dengan e-learning, pembelajaran lebih hemat dari segi waktu. Siswa tidak perlu lagi mencatat pelajaran yang dituliskan guru pada papan tulis seperti pada zaman dulu. Siswa dapat meng-copy pelajaran yang guru berikan melalui media flashdisk atau cd. Atau bisa juga guru mengirimkan email silabus materi pekanan yang dipelajari. Secara langsung, guru pun menjadi lebih ringan karena tidak perlu menuliskan materi pada papan tulis.
2. Dengan e-learning, pembelajaran lebih hemat dari segi biaya. Siswa tidak lagi diharuskan mempunyai buku pelajaran, karena buku-buku pegangan itu bisa diperoleh dengan mengunggah buku sekolah elektronik yang ada. Jadi siswa pun tidak perlu membawa tas yang berat berisikan buku-buku pelajaran. Begitu juga, guru cukup membuka laptop atau netbooknya ketika mengajar di kelas.
3. Dengan e-learning, pembelajaran membuat siswa aktif. Siswa yang didampingi orangtua menjadi lebih aktif untuk mencari sendiri buku pelajaran yang dibutuhkan, mengerjakan tugas sekolah seperti kliping dengan bantuan internet.
4. Dengan e-learning, pembelajaran menjadi menyenangkan. Siswa tidak lagi jenuh belajar di kelas dengan selalu duduk manis. Pembelajaran bisa juga diselingi dengan menonton film yang tetap dalam koridor atau tema belajar. Dengan menyeimbangkan antara otak kanan dan kiri, penerimaan materi pada siapa pun akan menjadi lebih mudah. Siswa senang dalam belajar, guru pun menjadi lebih mudah dalam mengajar.
Menurut Newsletter of ODLQC, 2001 (dalam Siahaan) syarat-syarat kegiatan pembelajaran elektronik (e-learning) adalah :
a. kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan dalam hal ini internet.
b. Tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM atau bahan cetak
c. tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan
d. adanya lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning
e. adanya sikap positif pendidik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet
f. adanya rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar
g. adanya sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar
h. adanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara
Kita dapat melihat perkembangan afektif peserta didik dari pembelajaran e-learning yaitu dia akan memiliki kemandirian belajar, artinya dia sendiri yang aktif mencari informasi bukan bergantung pada guru saja. Dan motoriknya,dia akan terampil mengerakkan atau mengoperasikan suatu alat elektronik era digital sekarang ini. Pembelajaran e-learning ini sangat mempengaruhi perkembangan kognitif anak untuk mengikuti dan bersaing di zaman canggih sekarang ini.
Fleksibel. E-learning memberi fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.
Belajar Mandiri. E-learning memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.
Efisiensi Biaya. E-learning memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya transportasi dan akomodasi.
Namun seperti yang kita ketahui, bahwa tidak semua sekolah yang ada di Indonesia memeiliki sarana-prasarana yang memadai,jangankan komputer, jaringan saja sulit untuk dijangkau. Jadi e-learning ini hanya dapat digunakan pada sekolah-sekolah atau instansi yang memang sudah maju dan dapat memenuhi karakteristik e-learning.
1. Pembelajaran dilakukan dengan memanfaatan jaringan internet
2. Tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa
3. Tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan
4. Adanya lembaga yang menyelenggarakan dan mengelola kegiatan e-learning
5. Adanya sikap positif dari guru dan siswa terhadap teknologi komputer dan internet
6. Adanya sistem pembelajaran yang dapat dipahami oleh siswa
7. Adanya sistem evaluasi terhadap perkembangan kemampuan siswa
syaratnya yaitu adanya elektronik yang akan digunakan, adanya fasilitas seperti jarinan internet, adanya tutor, adanya tujuan yang jelas dari pembelajaran
Menurut saya pembelajran ini kurang efektif jika diterapkan dalam seluruh sekolah di indonesia
Karena ini berbasis multimedia dan menggunkan komputer sementara kita ketahui tidak semua sekolah di indonesia sudah memiliki kompeter yang memadai di tiap sekolah
Jadi jika diterapkan itu kurang efektif
Secara lebih rinci Rosenberg (2001) mengkategorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-Learning, yaitu:
e-Learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangatlah penting dalam e-learning, sehingga Rosenberg menyebutnya sebagai persyaratan absolut.
e-Learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD ROM, Web TV, Web Cell Phones, pagers, dan alat bantu digital personal lainnya walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa digolongkan sebagai e-learning.
e-Learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.